Skip to main content

10 lagu Indonesia bertema hujan favorit

Sekarang adalah bulan Nopember. Indonesia sedang mengalami peralihan dari musim kemarau ke musim hujan  Desember, Januari, Februari, Indonesia memasuki musim hujan. Bahkan di bulan April dan Mei, seringkali kita masih bertemu dengan hujan. Menurut artikel yang saya baca, sebuah penelitian dan pengamatan satelit TRMM memang menunjukkan telah terjadi pergeseran puncak curah hujan selama sepuluh tahun terakhir.

Tapi saya gak akan bahas itu.

Yang saya pikirkan setiap kali hujan turun adalah, kira - kira sudah berapa banyak ya lagu yang tercipta di bawah hujan? Mungkin ratusan, bahkan ribuan. Hujan adalah fenomena. Hujan adalah inspirasi.

Ini hanyalah 10 lagu Indonesia dari ribuan daftar lagu bertema hujan, yang kebetulan saya dengar dan suka.

1. Senandung Hujan - Sarasvati


"Hujan tlah iringi tangisku 
seolah hanya dia yang mengerti
lenyap dalam duniaku
sesal tak lagi berarti"

2. Lagu Hujan - Dimasta and Friends


"Bila ku menunggu sampai waktu itu, harus bagaimana
Akupun termenung menatap langit, kuingin bertemu
Hujan turun membasahi, diriku akan tersenyum
Menari bersama riak air hujan
Ku kan slalu menunggumu, jatuh dan temani aku
Aku payung dan kau air hujan"

3. Desember - Efek Rumah Kaca


"Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember
Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka"

4. Mesin Penenun Hujan - Frau


"Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita"

5. After The Rain - Adhitia Sofyan


"If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way"

6. Puan Main Hujan - Payung Teduh


"Puan asyik dengan hujan, 
Puan senang berenang-renang, 
Puan sedih juga riang di setiap hujan datang 
Di setiap hujan datang 
Puan selalu seru bermain dengan hujan... 
Di setiap hujan datang"

7. Man Upon A Hill - Stars and Rabit


"We drove in the wind, opened the window
Waved to nothing, just keep us awake
We drove under the heavy rain
Soaking wet yes
We laughed at it yet
So tell me more your constellation arm"

8. Hujan Turun - Sheila on 7


"Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan"

9. Pelangiku - Sherina


"Titik - titik hujan, masih membasahi
Kala kau menyapa, pelangiku
Ingin kuberlari, jumpa bidadari
Bawalah aku pergi, bersamamu"

10. Angin Pujaan Hujan - Payung Teduh


"Datang dari mimpi semalam
Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya
Di langit yang merah
Ranum seperti anggur
Wajahmu membuai mimpiku

Sang pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah lara"

Kalau lagu hujan-mu, apa? :)

Comments

Popular posts from this blog

Hade goreng ku basa

Kaget, miris, sedih. Tiga kata ini menggambarkan perasaan saya setiap kali dihadapkan langsung pada realita sikap sebagian masyarakat kita yang pengguna teknologi canggih, namun masih mengabaikan etika dan kesopansantunan dalam bertutur. Berkaitan erat dengan penggunaan bahasa, ada sebuah pepatah Sunda berbunyi: “Hade goreng ku basa”. Pepatah ini mengandung arti bahwa baik atau buruknya sesuatu tergantung bagaimana bahasa dan cara kita menuturkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di ranah publik dan ranah formal, penggunaan bahasa yang baik dan benar (tak hanya dari segi gramatika, tetapi juga konteks sosialnya) amat sangat penting. Beberapa yang belakangan ini sedang sering saya temui adalah: 1. Pencari kerja yang meninggalkan komentar/pertanyaan tanpa memperhatikan tata krama pada postingan iklan lowongan kerja di media sosial. 2. Pelamar kerja/pencari peluang bisnis atau kerja sama yang mengirimkan e-mail tanpa memperhatikan etika berkirim surat. Mungkin terdengar berl

Menerjemahkan Karam Sarasvati

Di antara banyak isi kepala, saya suka deh terbengong - bengong berpikir betapa sebuah lagu bisa bertransformasi menjadi banyak bentuk karya lainnya. Ya prosa yang lebih panjang aka cerpen, ya novel, lalu jadi video klip atau bahkan film. Lagu berubah wujud jadi koreografi. Lagu jadi tema foto. Lagu jadi lukisan pasir. Lagu jadi soundtrack pribadi. Oh ini sih saya. Lagu diinterpretasikan menjadi posting instagram? Itu sih kerjaan teman saya. Tapi memang menarik sih. Beberapa waktu lalu juga ada satu band yang membuat lomba foto semacam ini. Jadi kita mendengarkan lagu - lagu mereka, lalu kita posting foto yang menurut kita menginterpretasikan lagu - lagu band tersebut. Dan memang, kalau kita mencipta sesuatu, sudah jelas interpretasi orang terhadap apa yang kita buat tidak akan sama dengan apa yang kita pikirkan saat kita mencipta karya tersebut. Makin banyak interpretasi, makin 'kaya' karyanya. Dan satu hal, tidak ada salah atau benar yang 'pakem' d

1000 paper stars and one wish

Masih ingat dengan karakter Kugy di novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari? Atau tonton filmnya deh. Di sana ada adegan Kugy senang membuat dan menempel origami burung bangau. Nah, hari kemarin saya buka puasa bersama dengan teman-teman, dan ternyata saya baru menemukan hobi mereka membuat origami. Tapi mereka gak bikin origami bangau seperti Kugy, melainkan origami bintang. Sambil ngobrol ngaler ngidul, tangan kita asik membuat origami bintang dari paper stars yang sudah banyak dijual di toko aksesoris. Kita tinggal melipat.. melipat lagi.. dan voila! Jadilah bintang-bintang lucu seperti ini! :D Origami adalah seni melipat kertas dari Jepang. Dan untuk origami bangau dan bintang ini ada mitosnya. Menurut mereka, kalau kamu bikin 1000 bangau atau bintang, kamu bisa make a wish. Namanya juga mitos, bisa jadi benar-benar kejadian bisa juga mitos ini dipatahkan kapan saja. Tergantung kamu mau percaya atau tidak. Kalau salah satu teman saya yang kemarin hadi