Skip to main content

Ask me anything

Entry kali ini sesungguhnya adalah pertanggungjawaban kepada lima orang teman atas cetusan ide random yang datang dari saya sendiri yang menyatakan akan menjawab pertanyaan apa pun dari mereka dalam sebuah postingan blog. Beginilah jadinya.

Sisca Utami (@sisca_utami) : Pilih mana, bahagia apa sukses? Kenapa?
Bahagia. Karena kalau kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, kesuksesan akan mengikuti. Amin.

Mentari Nurmalia (@rockintari_) : Hal paling tidak lo sukai yang harus lo lakukan?
Pas camping di lokasi yang ga ada tempat buang airnya. Jadi mau ga mau harus buang air di tengah-tengah sawah. Atau pas lagi jalan ke mana pun, harus buang air di toilet yang kotor dan bau. Pokoknya aku ga suka. Tapi ya mau gimana lagi ya kan.

Lucyana Oktaviani (@lucyanao) : Kapan bikin project novel lagi? Kapan mau bikin album?
Aku belum berhasil bikin novel satu kali pun, masa udah ditanya "kapan bikin lagi?" *cry* Bikin album juga. Pertanyaan macam apa ini. Di karaokean aja aku selalu jadi yang paling kenceng. Kenceng diketawain, maksudnya. Karena ga bisa nyanyi. Sedih.

Fitra Azrina (@tetabubbly) : Apa pandangan lo soal pacaran dan sejak kapan suka nulis?
Ga tau. Ga pernah pacaran. Suka nulis sejak AADC1 biar kayak Cinta, dapet pacar yang seperti Rangga.

Aprilliana Rahmadani (@nyrhm) : How will you see yourself in 5 years? Explain briefly and where possible you should write your reasons to support your arguments.
Damn. Waaaay too hard to answer. Because i'd love to keep my life as a surprise for you. lol.
___

Baik. Mulai menyesal membaca postingan saya ini ya? Haha.

Tapi terima kasih untuk kelima teman saya yang mau-mauan dimintain pertanyaan. Semoga kalian berbahagia.

Comments

Popular posts from this blog

1000 paper stars and one wish

Masih ingat dengan karakter Kugy di novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari? Atau tonton filmnya deh. Di sana ada adegan Kugy senang membuat dan menempel origami burung bangau. Nah, hari kemarin saya buka puasa bersama dengan teman-teman, dan ternyata saya baru menemukan hobi mereka membuat origami. Tapi mereka gak bikin origami bangau seperti Kugy, melainkan origami bintang. Sambil ngobrol ngaler ngidul, tangan kita asik membuat origami bintang dari paper stars yang sudah banyak dijual di toko aksesoris. Kita tinggal melipat.. melipat lagi.. dan voila! Jadilah bintang-bintang lucu seperti ini! :D Origami adalah seni melipat kertas dari Jepang. Dan untuk origami bangau dan bintang ini ada mitosnya. Menurut mereka, kalau kamu bikin 1000 bangau atau bintang, kamu bisa make a wish. Namanya juga mitos, bisa jadi benar-benar kejadian bisa juga mitos ini dipatahkan kapan saja. Tergantung kamu mau percaya atau tidak. Kalau salah satu teman saya yang kemarin hadi...

Hade goreng ku basa

Kaget, miris, sedih. Tiga kata ini menggambarkan perasaan saya setiap kali dihadapkan langsung pada realita sikap sebagian masyarakat kita yang pengguna teknologi canggih, namun masih mengabaikan etika dan kesopansantunan dalam bertutur. Berkaitan erat dengan penggunaan bahasa, ada sebuah pepatah Sunda berbunyi: “Hade goreng ku basa”. Pepatah ini mengandung arti bahwa baik atau buruknya sesuatu tergantung bagaimana bahasa dan cara kita menuturkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di ranah publik dan ranah formal, penggunaan bahasa yang baik dan benar (tak hanya dari segi gramatika, tetapi juga konteks sosialnya) amat sangat penting. Beberapa yang belakangan ini sedang sering saya temui adalah: 1. Pencari kerja yang meninggalkan komentar/pertanyaan tanpa memperhatikan tata krama pada postingan iklan lowongan kerja di media sosial. 2. Pelamar kerja/pencari peluang bisnis atau kerja sama yang mengirimkan e-mail tanpa memperhatikan etika berkirim surat. Mungki...

Wilujeng sumping di pasar seni dan antik Cikapundung

Awal ceritanya begini, dulu untuk urusan pekerjaan, saya diminta datang ke satu cafe di Jalan Braga, Bandung. Entah kenapa, saat itu saya merasa seperti akan datang dan datang lagi ke tempat itu. Saya ingat, kali pertama saya datang, saya betah dengan playlist yang diputar di tempat itu. Kali kedua, saya mengajak teman saya. Pada kali kedua, pada saat saya punya kesempatan untuk lebih memperhatikan interior cafe itu secara detail, saya semakin jatuh cinta pada tempat itu. Interiornya sangat Bandung. Sangat tempo dulu. Bayangkan, di dinding cafe, terdapat lukisan bangunan-bangunan bersejarah di Jalan Braga. Dipajang juga, potret pemimpin-pemimpin Bandung dari waktu ke waktu. Serta pernak-pernik jadul seperti mesin tik manual, televisi hitam putih, poster film-film Indonesia yang tayang jaman dulu, sampai kaleng bekas margarin yang saat ini sudah tidak lagi diproduksi. Lalu pertanyaannya, dari mana desainer interior cafe itu mendapatkan semua barang yang ia butuhkan? Bandung pu...