Skip to main content

Posts

Showing posts with the label #life

Dear Self

Apa kabar? Oh. Lupakan. Kamu akan jawab "Baik", tapi kemudian kamu akan mengkritik pertanyaan saya. Kamu akan bilang, "Kita selalu lebih baik dari apa yang kita kira." Oke. Sekarang, saya tebak kamu pasti sedang mengomel. Kamu akan bilang, "Apa-apaan, sih? Ngajak ngobrol kok di tempat yang tidak pribadi seperti ini." Duh. Kamu memang sensitif sekali, ya. Tidak berubah. Pada akhirnya, orang-orang akan selalu butuh membagikan cerita mereka pada orang lain, dan tidak lagi menyimpannya di tempat pribadi mereka. Kamu kan pasti tidak lupa, setiap detik, foto-foto artistik, film-film magis, lagu-lagu sendu, tulisan-tulisan yang menggerakkan, serta buku-buku puitis hadir di ruang yang bukan pribadi. Itu semua juga kan obrolan. Sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan, semua orang butuh mencari kerabat melalui "obrolan" yang mereka bagi ke ruang publik. Saya cuma kepengin mengajak kamu berhenti sejenak, kok. Kamu sudah berjalan kaki cukup jauh dan ...

Tuhan saya, Tuhan maha iseng?

Beberapa hari ke belakang, ada hal yang cukup menyentuh saya dan ingin saya ceritakan namun saya simpan sampai tangan saya tergerak sendiri untuk menuliskannya. Sekitar satu tahun yang lalu, seseorang menghadiahi saya buku Ika Natassa yang berjudul Critical Eleven. Saya sungguh menyukai jalan cerita dari novel tersebut dan bagaimana penulis menceritakannya. Novel itu berkisah tentang sepasang suami istri yang kehilangan anak pertama mereka. Dada saya dibuat sesak karena menangis pada beberapa bagian novel. Saat itu, saya sama sekali tidak membayangkan bahwa cerita tentang kehilangan anak kesayangan harus dialami oleh kawan baik saya sendiri, setahun setelah saya membaca novel tersebut. Saya tidak pernah mengalami kehilangan sepilu itu. Saya pun tidak mungkin merasakan secuil saja rasa yang kawan saya itu rasakan. Maka saya hanya bisa menyampaikan belasungkawa dengan kata-kata sekadarnya. Sudah sejak lama saya tahu kalau perasaan saya itu sangat sensitif. Membaca berit...

Tentang semesta yang tak jera memberi pertanda

“Kamu percaya kebetulan? Aku tidak. Aku menganggap semua yang terjadi padaku atau semua yang kulihat dan kualami adalah tanda atau isyarat dari semesta. Tapi ironis. Aku seringkali gagal untuk mengetahui maksud dari semesta itu hingga akhirnya aku terlalu malas untuk mencari jawaban dari setiap kejadian yang kuanggap tanda dan memilih melaju dengan lakuku. Beruntung, tanda tak jera menuntunku.” Saya menuliskan kalimat-kalimat di atas kira-kira dua tahun yang lalu. Dan sampai saat ini, keyakinan saya tentang pertanda belum berubah. __ Saya jarang merancang acara untuk merayakan malam pergantian tahun baru. Karena saya tidak terlalu suka petasan dan suara berisik terompet. Membakar kembang api dan makan jagung bakar cukup oke lah. Lebih aman lagi, hanya menonton tv atau menyepi di kamar sampai tertidur. Seperti itu saja. Saya tidak menganggap ada sesuatu yang istimewa dalam malam pergantian tahun baru sehingga harus dirayakan dengan euforia berlebihan, sama saja seperti...

Siapa kamu dan apa misi kamu di bumi ini?

Maharani, 25 tahun, bekerja di salah satu perusahaan swasta. Perempuan menarik yang ramah, ceria dan hangat. Rani, begitu ia biasa dipanggil, menemukan seorang lelaki yang cocok dengannya di perusahaan tempat ia bekerja itu. Maka lelaki itupun menjadi pasangannya menjalani hari – hari bekerja penuh semangat. Tiga tahun sudah kebersamaannya dengan pria pujaannya itu dan masih saja Rani merasa pria yang berada di sampingnya itulah yang terbaik baginya. Sampai pada suatu hari yang tak pernah ia bayangkan, sang pujaan hati memutuskan kebersamaannya dengan Rani untuk sebuah alasan yang tak ia pahami. Rani tidak bisa memaksa untuk paham alasan kekasihnya memutuskan dia. Ia hanya mampu menerima keputusan itu. Maka berhari – hari tumpahlah air mata penyesalannya. Tiga tahun lewat sudah dan tak berarti apapun baginya. Dunia terasa menyempit. Ranipun sakit, merasa terhimpit. Shahnaz, 17 tahun, siswi SMU yang cerdas, manis, meski tidak selalu juara satu namun ia pasti masuk rang...

Hikmah hidup

Hikmah datang dari Tuhan. Kita mendapatkannya ketika mampu menangkap apa yang baik dan apa yang tidak baik dn kita memilih untuk melangkah ke depan dengan mendapat pelajaran dari sesuatu yang telah kita lewati. Tak hanya hal baik yang dapat membekali kita dengan pelajaran, sesuatu yang buruk pun bisa saja memberi hidup kita nilai yang jauh lebih berhaga. Kedua orang tua saya memutuskan untuk bepisah ketika usia saya balita. Saya tidak tumbuh dengan Ayah dan Ibu kaandung bersama - sama di samping saya. Saya penah merasa seperti tidak diharapkan di dunia ini dengan keadaan tersebut. Namun itu mampu saya lewati dengan menanamkaan keyakinan bahwa setiap manusia lahir ke dunia pastinya dengan sebuah misi yang diembankan Tuhan padanya. Mengetahui bahwa banyak hal baik yang bisa dilakukan seorang manusia, maka sia - sia rasanya ketika saya harus terus menyesali perpisahan kedua orang tua saya. Ada sebuah kalimat bagus yang pernah saya dengar, 'don't regreat anything because everything...