Skip to main content

Posts

Showing posts with the label #randomthoughts

Dear Self

Apa kabar? Oh. Lupakan. Kamu akan jawab "Baik", tapi kemudian kamu akan mengkritik pertanyaan saya. Kamu akan bilang, "Kita selalu lebih baik dari apa yang kita kira." Oke. Sekarang, saya tebak kamu pasti sedang mengomel. Kamu akan bilang, "Apa-apaan, sih? Ngajak ngobrol kok di tempat yang tidak pribadi seperti ini." Duh. Kamu memang sensitif sekali, ya. Tidak berubah. Pada akhirnya, orang-orang akan selalu butuh membagikan cerita mereka pada orang lain, dan tidak lagi menyimpannya di tempat pribadi mereka. Kamu kan pasti tidak lupa, setiap detik, foto-foto artistik, film-film magis, lagu-lagu sendu, tulisan-tulisan yang menggerakkan, serta buku-buku puitis hadir di ruang yang bukan pribadi. Itu semua juga kan obrolan. Sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan, semua orang butuh mencari kerabat melalui "obrolan" yang mereka bagi ke ruang publik. Saya cuma kepengin mengajak kamu berhenti sejenak, kok. Kamu sudah berjalan kaki cukup jauh dan ...

Lebaran dan pertanyaan "Kapan nikah?"

Jadi, berapa banyak di antara kamu yang di Hari Lebaran sering diberi pertanyaan "Kapan nikah?" Pertanyaan yang kalau kamu sadari, lebih sering dilayangkan terutama kepada para perempuan daripada laki-laki. Ini didukung juga oleh observasi kecil-kecilan saya di timeline media sosial yang saya punya, bahwa kebanyakan teman-teman perempuan yang membahas topik "Kapan nikah?" ini. Karena apa? Karena biasaya, laki-laki lebih diberi kebebasan untuk menentukan kapan menikah. Sedangkan perempuan, ada standar yang ditentukan sendiri oleh para orangtua dan masyarakat bahwa perempuan harus menikah di usia sekian. Di bawah ini ada obrolan saya bersama seorang sahabat perempuan. Bisa ada hubungannya, bisa juga tidak. Tapi saya merasa isi obrolan kami mungkin bisa sedikit membuat kalian, para perempuan yang baru saja ditanya "Kapan nikah?", merasa hari ini tak terlalu buruk. Selamat menyimak. Q : Apa yang paling menyedihkan dari Indonesia saat ini menu...

Signifikansi profesi

Saya lagi kepengin cerita lagi, nih. Lagi-lagi, ini diawali dari chat iseng sama seorang teman. Saat itu, saya lagi asik baca-baca berita hiburan. Sampailah di artikel yang ngasih tahu saya kalau usia Angga Sasongko adalah 30 tahun. Tahu, kan, Angga Sasongko? Kalau enggak, ya masa sih. Habis baca artikel itu, saya langsung mikir. Angga 30 tahun sudah bikin puluhan judul film. Lah, saya 30 tahun sudah bikin apa, ya? Teman saya iseng menjawab, "Lo udah bikin heboh orang-orang karena ninggalin laptop di atas kereta." Ya ampun, iya juga ya. Teman saya itu memang paling jago untuk urusan satire. Hahaha. - Akan tetapi, yang saya mau curhatin di sini bukan bagian 'saya udah bikin apa', melainkan bagian 'saya ketinggalan laptop di kereta'. - Singkat cerita, waktu itu saya turun di stasiun tujuan dan lupa kalau saya ninggalin laptop di atas kompartemen. Baru ingat setelah sampai di kantor. Saya beneran panik dan takut laptop enggak bisa balik lagi. Soalnya lapt...

Balada angkoters dan public transport customers

Kamis kemarin, saya mengecek timeline twitter sekilas. Rupanya di sana sedang ramai tweet tentang pedihnya naik angkot. Saya tahu bahwa tweet-tweet itu dipicu oleh berita demo para sopir transportasi konvensional atas hadirnya transportasi online di mana-mana. Saat menutup aplikasi twitter, seorang kawan mengirim whatsapp, "Gimana aspirasi lo sebagai angkoters dan public transport customers?" ... Sebenarnya sudah sejak beberapa pekan ke belakang saya menyimak demo para sopir transportasi konvensional itu. Sejujurnya, saya menyesalkan karena ternyata demo menyisakan banyak pihak dirugikan. Dari mulai penumpang yang tiba-tiba kehilangan sarana transportasinya yang biasa hingga bentrokan antara kedua pihak. Bahkan sampai ada pihak yang terkena imbas bentrok salah sasaran. Meski begitu, sementara pemerintah terus bekerja keras menyusun regulasi yang sempurna terkait permasalahan transportasi ini, kita pun seharusnya sama, tidak melupakan akar permasalahan demo itu sendiri dan...

Kamu, anak streaming atau anak radio?

" Lewat radio aku sampaikan Kerinduan yang lama terpendam Terus mencari biar musim berganti Radio cerahkan hidupnya Jika hingga nanti ku tak bisa Menemukan hatinya Menemukan hatinya Menemukan hatinya lagi " (Radio, Sheila On 7) Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah pertanyaan di Twitter, “Untuk mendengarkan lagu-lagu terkini, lebih memilih online streaming atau radio?" Jawaban saya sih dua-duanya. Terkadang saya online streaming untuk mendengar rilisan lagu terbaru dari artis favorit saya. Tetapi untuk mencari tahu lagu-lagu apa saja sih yang sedang banyak di- request , saya lebih memilih menyalakan radio. Ada beberapa hal memang yang tetap tak bisa tergantikan meski gempuran teknologi semakin canggih. Contohnya ya kebiasaan menyimak media konvensional seperti radio. Ketika teknologi memudahkan kita memilih sendiri lagu apa pun yang ingin didengarkan melalui berbagai layanan online streaming , lalu mengapa ya masih banyak yang lebih senang mendengar...

New year's resolution: Walk the talk!

Hampir setiap tahun menyusun resolusi, bagaimana pelaksanaannya? Penghujung tahun selalu menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi diri. Perencanaan resolusi adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Daripada menyesal di akhir tahun karena melewatkan banyak peluang. Bersikap spontan memang kadang menyenangkan, que sera sera . Tetapi perencanaan membuat hidup kita  lebih terarah mencapai tujuan. Pada akhirnya semua orang memang harus membawa hidupnya ke level yang lebih tinggi. Jika kamu merasa kesulitan memulai dari mana untuk menyusun sebuah resolusi, ada 6 sisi kehidupan manusia yang kita tahu; spiritual, intelektual, kesehatan, karir, keuangan, dan sosial. Kamu bisa mulai merencanakan untuk membuat resolusi dengan pertama-tama bertanya pada diri sendiri, tujuan apa yang ingin kamu capai dari masing-masing sisi kehidupanmu? Gunakan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) untuk memudahkanmu mengetahui sedang berada di level mana kamu dan apa yang per...

Tentang semesta yang tak jera memberi pertanda

“Kamu percaya kebetulan? Aku tidak. Aku menganggap semua yang terjadi padaku atau semua yang kulihat dan kualami adalah tanda atau isyarat dari semesta. Tapi ironis. Aku seringkali gagal untuk mengetahui maksud dari semesta itu hingga akhirnya aku terlalu malas untuk mencari jawaban dari setiap kejadian yang kuanggap tanda dan memilih melaju dengan lakuku. Beruntung, tanda tak jera menuntunku.” Saya menuliskan kalimat-kalimat di atas kira-kira dua tahun yang lalu. Dan sampai saat ini, keyakinan saya tentang pertanda belum berubah. __ Saya jarang merancang acara untuk merayakan malam pergantian tahun baru. Karena saya tidak terlalu suka petasan dan suara berisik terompet. Membakar kembang api dan makan jagung bakar cukup oke lah. Lebih aman lagi, hanya menonton tv atau menyepi di kamar sampai tertidur. Seperti itu saja. Saya tidak menganggap ada sesuatu yang istimewa dalam malam pergantian tahun baru sehingga harus dirayakan dengan euforia berlebihan, sama saja seperti...

Write shit down, and let it go!

Bagi saya, marah adalah emosi paling buruk dibanding emosi lainnya, yang bisa saya rasakan. Lebih buruk lagi, jika ekspresi rasa marah tidak tepat waktu dan/atau tidak tepat sasaran. Jika ada kata-kata yang paling saya sesali setelah mereka keluar dari mulut, sudah bisa dipastikan mereka adalah kata-kata yang keluar dari mulut saat saya marah. Sama buruknya saat saya marah dan tidak bisa mengendalikannya agar bertindak lebih rasional. Sudah pasti, kemarahan seperti itu hanya akan merusak segala yang baik, membuat saya terlihat bodoh atau membuat orang enggan untuk menghormati saya seperti sebelumnya. Amit-amit naudzubillah. "Jika emosi mengalahkan logika, kerasa kan akibatnya?" Masih ingat kalimat itu? Kalimat Cinta untuk Rangga di Film AADC itu contoh kasus yang paling gampang deh, akibat buruk dari marah-marah-gak-jelas. Tetapi saya percaya, sebagai sebuah reaksi, setiap emosi yang datang dari dalam diri, termasuk marah, adalah emosi yang jujur. Jika saya menyebut...

Terapi eksistensial di pojok warung

Selalu ada bekal cerita yang saya dapat dari setiap perjalanan ke tempat baru. Kemarin, saya bersama seorang teman berjalan-jalan ke sebuah tempat wisata di daerah Padalarang. Ketika sampai di sana, matahari masih terik, udara juga sedang panas-panasnya. Jadi, sebelum kami mulai menjelajah, saya bersama teman saya memutuskan untuk ‘ngadem’ sebentar di warung sekitaran tempat wisata itu. Si Ibu Warung yang ramah, kami ajak ngobrol ini-itu sampai-sampai kami dikasih diskon seribu rupiah waktu membeli air mineral dari warungnya. Lumayan. Hahaha. Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba Ibu Warung teriak, "Neng sini, Neng.." Dia memanggil perempuan yang terlihat masih anak kecil, serta memiliki ukuran badan yang juga mungil. Perempuan itu sedang menggendong bayi. Si Ibu Warung meraih bayi dari gendongan perempuan kecil tadi, kemudian memamerkan bayi yang sedang dipangkunya kepada kami, "Ini cucu saya." Sekilas, ada rasa terkejut melintas di pikiran saya. Ibu...

Catatan awal tahun 2015: Konsisten dalam ketidakkonsistenan

Sebut saja beberapa hal yang identik dengan perayaan pergantian tahun! Bakar jagung? Bakar ayam? Bakar kembang api? Bakar petasan? Panggung hiburan? Meniup terompet? Rasanya, saya kurang akrab dengan hal-hal itu. Sesekali saja boleh lah. Tapi rasanya saya lebih menggemari hening. Saya menghindari bising. Dan pergantian tahun kemarin malam, saya lewatkan dari dalam tempat suci bagi saya : kamar tidur. Ada tiga hal yang menemani saya : tracklist panjang yang menyenangkan, satu mug besar berisi capuccino, dan lamunan tentang apa saja. Salah satu yang menyenangkan dari momen pergantian baru buat saya adalah memiliki jurnal baru untuk kemudian dicorat-coret sepuasnya sepanjang tahun hingga tahun benar-benar habis. Di halaman awal jurnal, saya pasti menuliskan resolusi saya untuk tahun itu. Dan kebiasaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, telah bertahun-tahun juga saya menjadi orang yang cukup konsisten dalam ketidakkonsistenan. Setiap kali membuat resolusi, sebagian ...

The writing muse

muse (mju:z) v.  merenung. ~ing, n. renungan.  Sebelum ini saya tidak pernah terlalu tertarik dengan kata itu. Semua yang saya tahu tentang muse hanyalah nama sebuah band asal Inggris yang digawangi oleh Matthew Bellamy. Kemudian saya membaca cerpen dari penulis favorit saya dengan judul Muse. Cerpen ini bercerita tentang seorang penulis perempuan yang suaminya benci dijadikan muse . Dari situ saya mendapatkan makna baru dari kata muse , selain makna harfiahnya dan tentunya nama sebuah band. Saya pun penasaran, siapa atau apa sebenarnya muse itu? Apakah harus berwujud orang? Atau benda? Atau suasana? Mungkin aroma? Berselancar pada sedikit sekali artikel yang membahas muse , dan bertanya pada beberapa teman, saya mendapatkan pengertian baru. Bahwa muse ini tidak hanya berlaku bagi seorang penulis. Setiap pekerja kreatif, baik itu penulis, perancang busana, pelukis, hingga pencipta lagu memang mempunyai sumber inspirasi yang disebut muse . Saya pun menemukan perny...

Life is a puzzle, literally

Sudah 10 hari memasuki November. Penghujung tahun 2013 akan dijelang hanya dalam waktu kurang dari dua bulan lagi. Menjelang penghujung tahun, saya biasanya melakukan semacam refleksi ke belakang, apa saja yang sudah saya lakukan di tahun ini. Apa saja hal baru yang saya temui. Apa saja yang sudah saya pelajari. Apa saja yang terlewat. Niat mana yang belum ter-realisasi,dan seterusnya. -- Dan beberapa hari terakhir ini, ide bahwa hidup adalah puzzle terus menghantui kepala saya. Saya menemukan gambar ini. Entah asalnya dari mana. Saya menemukan gambar ini dari retweetan di timeline twitter. Rasanya pas untuk menggambarkan apa yang ada dalam kepala saya beberapa hari terakhir. Life is a puzzle literally. You’ll meet all kinds of people. Nobody’s perfect. We’ve got strengths and weaknesses. Some are stronger. Some are not (that’s okay). Some just don’t click. For some, they just needed a change in angle...