Skip to main content

Posts

Showing posts with the label #film

Sekala Niskala di Bali

Part 1. Hari Sabtu (10/02), sehari sebelum premier Sekala Niskala (The Seen and Unseen) di Bentara Budaya Bali, digelar acara bertajuk Focus On Kamila Andini di tempat yang sama. Acara tersebut merupakan program kolektif yang diadakan oleh komunitas dan penggiat film di Indonesia untuk memutar film-film karya Kamila Andini terdahulu, dengan tujuan bersama-sama membaca proses kreatif Kamila Andini, sebelum film panjang keduanya, Sekala Niskala, tayang secara serentak di bioskop mulai 8 Maret 2018. Film diputar berurutan berdasarkan tahun produksinya. Film cerita pertama Kamila Andini, The Mirror Never Lies (2011), berkisah tentang hubungan ibu dan anak perempuan suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menurut sumber yang saya baca, berkat film ini, Kamila Andini meraih sejumlah penghargaan, di antaranya: Earth Grand Prix Award di Tokyo International Film Festival, Bright Young Talent Award di Mumbai International Film Festival, dan FIPRESCI Award di the Hong Kong International F...

Film Susah Sinyal: Sajian ragam komedi komplet plus drama yang menggigit hati

Dalam film ketiganya, Susah Sinyal, Ernest masih menawarkan formula yang sama, yaitu drama komedi keluarga. Film Susah Sinyal memberikan gambaran hubungan ibu dan anak yang tak melulu hangat. Karakter anak, Kiara, diperankan oleh Aurora, seorang pendatang baru yang langsung mendapatkan porsi utama di film perdananya, sementara karakter ibu, Ellen, diperankan oleh Adinia. Kiara adalah seorang remaja yang kurang perhatian orang tua. Sejak kecil Kiara dekat dengan omanya, sementara mamanya, Ellen, sibuk memperbaiki hal lain dari dirinya sendiri sampai ia lupa telah berutang banyak pada Kiara. Semua tampak mampu mengatasi masalah masing-masing, sampai Oma, satu-satunya jembatan bagi hubungan Ellen dan Kiara, tak bisa lagi mereka andalkan. Film Susah Sinyal menceritakan perjalanan ibu dan anak ini mencari frekuensi yang pas agar bisa saling terhubung pada gelombang yang sama. Buat saya, menonton Susah Sinyal ini seperti menonton autobiografi sendiri. Entah bagaimana caranya adegan Ki...

Cek Toko Sebelah: Sajian ragam komedi komplit

Ernest Prakasa dinobatkan sebagai Penulis Skenario Terpuji melalui film pertamanya, Ngenest , dalam ajang penghargaan Festival Film Bandung (FFB) 2016 dan Penulis Skenario Adaptasi terpilih dalam ajang Piala Maya 2016. Ernest juga menjadi peraih nominasi Penulis Skenario Adaptasi terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2016. Tentu saja saya penasaran dengan film kedua Ernest yang rilis pada 28 Desember 2016 lalu, Cek Toko Sebelah . Dalam film keduanya, sutradara yang mulai dikenal melalui standup comedy itu, masih menawarkan cerita yang dekat dengan kehidupannya. Dalam wawancara radio yang saya dengar, Ernest beralasan, hal tersebut dilakukannya agar ia bisa mengerjakan film secara detail. Cek Toko Sebelah memberikan gambaran kehidupan satu keluarga di Indonesia dengan segenap permasalahannya. Gambaran itu disuguhkan melalui tokoh Koh Afuk (Chew Kin Wah) sebagai ayah, serta Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa) sebagai kakak beradik. Diceritakan d...

Mencari tahu regulasi perfilman Indonesia

Bulan ini, bertepatan dengan musim libur Lebaran, timeline sosial media saya semarak dengan tweet promo film ataupun tweet orang-orang yang berkomentar tentang film yang baru mereka tonton. Tambahan lagi, pada bulan ini perfilman Indonesia mencapai rekornya; tujuh film Indonesia menembus angka lebih dari satu juta penonton. Konon pencapaian ini tak pernah terjadi dalam tujuh tahun terakhir. Tentu saja ini menggembirakan. Sumber :  filmindonesia.or.id  (19/7) Namun di samping kondisi menyenangkan tentang perfilman Indonesia, beberapa kritik mengenai tata edar, mutu film, kurangnya jumlah layar bioskop, sampai harga tiket bioskop yang tak terjangkau oleh semua kalangan juga kerap saya simak, baik dari pelaku industri film ataupun dari masyarakat. Lalu bagaimana sih sebenarnya regulasi perfilman Indonesia? Regulasi perfilman Indonesia tertulis dalam UU No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Kita bisa mengunjungi situs kejaksaan.go.id  untuk mengunduh dan membaca secar...

Aktor terbaik Festival Film Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir

Dalam sepuluh tahun terakhir, tercatat aktor Reza Rahadian meraih nominasi terbanyak dalam kategori Aktor Terbaik Festival Film Indonesia (FFI), yaitu 7 nominasi, dan memenangkan dua di antaranya. Disusul oleh Vino G. Bastian yang meraih 4 nominasi dan satu kali menang. Lalu siapa saja sih aktor-aktor terbaik Indonesia selain Reza dan Vino dalam sepuluh tahun terakhir ini? Berikut saya kumpulkan dari berbagai sumber, peraih penghargaan Aktor Terbaik FFI dalam sepuluh tahun terakhir. Selamat menyimak. Pemenang FFI 2006 Albert Fakdawer (Denias, Senandung di Atas Awan) Nominasi lainnya: Aries Budiman (Garasi) Dwi Sasono (Mendadak Dangdut) Ramon Y. Tungka (Ekskul) Ringgo Agus Rahman (Jomblo) Pemenang FFI 2007 Deddy Mizwar (Nagabonar Jadi 2) Nominasi lainnya: Dwi Sasono (Mengejar Mas-Mas) Fachri Albar (Kala) Ringgo Agus Rahman (Get Married) Tora Sudiro (Nagabonar Jadi 2) Pemenang FFI 2008 Vino G. Bastian (Radit dan Jani) Nominasi ...

Aktris terbaik Festival Film Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir

Mungkin ada yang sedang ingin mengingat-ingat, siapa sajakah aktris-aktris terbaik Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini? Berikut saya kumpulkan dari berbagai sumber, peraih penghargaan Aktris Terbaik dalam sepuluh tahun terakhir dari ajang paling bergengsi, Festival Film Indonesia (FFI). Selamat menyimak. Pemenang FFI 2006 Nirina Zubir ( Heart) Nominasi lainnya: Ayu Ratna (Garasi) Luna Maya (Ruang) Shanty (Berbagi Suami) Titi Kamal (Mendadak Dangdut) Pemenang FFI 2007 Dinna Olivia ( Mengejar Mas-Mas) Nominasi lainnya: Acha Septriasa (Love Is Cinta) Marsha Timothy (Merah Itu Cinta) Nirina Zubir (Kamulah Satu-Satunya) Poppy Sovia (Mengejar Mas-Mas) Pemenang FFI 2008 Fahrani ( Radit dan Jani) Nominasi lainnya: Ayu Laksmi (Under the Tree) Ladya Cheryl (Fiksi) Jenny Chang (May) Pevita Pearce (Lost in Love) Pemenang FFI 2009 Titi Rajo Bintang (Mereka Bilang, Saya Monyet!) Nominasi lainnya: Atiqah Hasiholan (Ruma Maida) Aty Nurhayati Djosa...

Ada apa dengan cinta? 2: Self-reflection

“Why do we get so much pleasure out of being so different not only from others but from our own past?” - Bruno Latour (1991) __ Menurut tweet dari akun Miles Films, 6 Mei 2016, sejak rilis di bioskop 28 April 2016 lalu, film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 telah mendapat apresiasi lebih dari 2 juta penonton. Saat postingan ini kamu baca, mungkin jumlahnya sudah bertambah. Saya sendiri kebetulan dua kali pergi ke bioskop untuk menonton AAADC2. Pertama kali bersama kawan yang satu, kedua kali menemani kawan yang lain. Pertama kali ditraktir, kedua kali bayar sendiri. Lol. Oke. Tidak penting. Tapi yang penting yang harus saya akui adalah, film AADC2 telah mengikat saya dalam pengalaman adiksi yang menyenangkan sehingga saya tidak keberatan untuk menonton berulang. Harus saya akui juga, saya tumbuh bersama tokoh-tokoh dalam film AADC. Maka, menyaksikan mereka bertransformasi dari remaja ingusan sampai menjadi manusia-manusia dewasa dalam film sekuelnya, bagi saya bukan hanya pengal...

A copy of my mind: Tontonan baru dari Joko Anwar

Festival Film Indonesia (FFI) 2015 menobatkan Joko Anwar sebagai Sutradara Terbaik melalui film A Copy of My Mind . Ditambah lagi, trailer film ini menggunakan lagu band kesukaan, Stars and Rabbit : Like It Here . Saya pun resmi penasaran. Saya pergi ke bioskop untuk menonton A Copy of My Mind , dua hari setelah film ini rilis pada 11 Februari 2016 lalu. Sutradara pujaan saya karena karya-karyanya yang baik itu, dalam A Copy of My Mind menampilkan gambaran sebuah periode kehidupan di Jakarta yang gelap, suram, runyam, gloomy , secara jelas, nyata, dekat dan apa adanya. Gambaran itu disuguhkan melalui kehidupan dua tokoh utamanya, Sari (Tara Basro) dan Alek (Chicco Jerikho). Dalam film ini, penonton hanya melihat Sari sebagai seorang petugas facial di sebuah salon murah. Sementara Alek, bekerja sebagai penerjemah teks film bajakan. Tak ada yang spesial dari hidup keduanya. Penonton yang memiliki kehidupan yang lebih dinamis mungkin akan mudah merasakan kebosanan di aw...

Film pendek: Bintang harapan

Tahun 2013, belajar bikin film bersama teman - teman.. Check filmnya di sini: Thank you :)

Sagarmatha: The vever ending talks

Saya ingat waktu kecil, waktu saya belum mengenal blog, saya menulis di buku harian. Tapi saya tidak menulis setiap hari di sana. Buku diary itu saya sentuh hanya saat pikiran dan perasaan saya agak ‘terusik’. Hehe. Sekarang? Sama. Apa yang mengusik pikiran saya cukup dalam, sudah pasti saya tulis di sini. Karena sebenarnya menulis itu menyembuhkan sih . Saya ingin bagi cerita tentang pengalaman saya menonton film Sagarmatha. Film karya sutradara Emil Heradi yang tayang perdana 28 November 2013 kemarin. Sebuah karya, apapun itu bentuknya, adalah hal yang subjektif. Diapresiasi secara personal oleh si penikmat karya. Tentu saja pengalaman mengapresiasinya akan berbeda – beda. Bukan karena saya sudah menonton begitu banyak film, bukan karena saya punya banyak referensi, bukan karena saya mengerti sekali teknik mebuat film sehingga postingan kali ini saya berani menulis tentang film. Saya menulis tentang Sagarmatha, sebuah film indie yang saya tonton beberapa hari la...