Skip to main content

Posts

Monolog (untukku yang sering merasa terluka karena banyak mau)

Malam ini kamu mengaku terluka lagi? Kamu tak tahu aku sudah bosan? Tapi baiklah, dengarkan ini. Pertama, tak butuh siapa – siapa untuk sembuhkan luka. Cukup putuskan saja sendiri kau telah sembuh, maka kau sembuh. Kedua, hentikan mau-mu yang banyak dan rupa - rupa itu. Tuhan tahu urusanmu tanpa kau perlu mengadu. Dia mengurus lebih baik daripada kamu. Selamat sembuh.

Tentang aku

Aku suka berjalan kaki. Melangkah sejauh-jauhnya. Tersesat sedalam-dalamnya. Tak temukan tempat untuk berhenti, sampai kaki meminta kembali. Aku suka terjaga sepanjang malam. Mengumpulkan khayal di satu sudut kepala. Membiarkan mereka bermain, selama malam tak menemukan ujung. Aku suka berulang memutar lagu yang sama. Membiarkan suara yang itu-itu saja, mencibir pikir yang terus bertanya-tanya, kapan kesempatannya untuk bisa duduk diam dan tenang. Aku suka menunggu aroma yang meruap dari balik malam yang hujan. Membiarkan dingin mengisap panas, hingga kisah roman terlahir sungsang, dan aku menciumnya sampai siang. Aku suka tulisan ini tak selesai, jika berarti aku masih menemui hari, dan menghidupi suka yang ramai-ramai tertawa di muka.

Kirana

Setelah Sherina, sepertinya belum ada penyanyi anak lain yang bikin saya gregetan. Sejak albumnya Andai Aku Besar Nanti (1999), Petualangan Sherina (2000), dan My Life (2002), belum ada album dan penyanyi anak kece lainnya yang menyusul lahir dan sampai di telinga saya. Saya sih kepikiran apa kabar ya pendengar musik anak di Indonesia? Selama belasan tahun ke belakang, anak – anak Indonesia ini mendengarkan lagu apa selain musik klasik di tempat lesnya dan lagu "wajib hapal" seperti Balonku dan lain - lain di sekolahnya? Dan saya rasa, tidak ada pilihan lain. Kebanyakan anak jatohnya pasti di lagu – lagu Coboy Junior, Cherrybelle, Smash dan lagu – lagu yang dibawakan oleh band atau penyanyi dewasa yang diperuntukkan bagi pendengar lagu dewasa. Lalu saya membayangkan, kira – kira apa yang ada di pikiran adik - adik kita saat mendengar lirik yang belum mereka pahami? Lalu, saya jalan – jalan ke sebuah toko cd/album, ingin tahu, kalau saya jadi orang tua dan sedang mencari a...

There will never be a time when life is simple

“Nyuci kaus kaki yang bener itu kayak gimana sih, Tar?” Cira meletakkan carrier 60L-nya di lantai teras kost yang sepi itu, lalu melemparkan tubuhnya di kursi. Di depannya, Tara, sahabat Cira yang menempati kamar kost tepat di sebelah kamarnya, sedang asik duduk membaca sebuah majalah. Kedatangan Cira yang tiba – tiba membuat Tara terpaksa menutup halaman fashion yang sedang dibacanya. “Hey! Udah dateng lo? Kasih salam dulu kenapa sih? Gua baru nemu orang yang turun gunung, langsung tiba – tiba nanya gimana cara nyuci kaus kaki..” Cira tertawa menanggapi sahabatnya yang sudah ia bikin kaget sekaligus bingung. Sambil membetulkan kaca mata yang ia kenakan, Tara memperhatikan Cira yang kini melorot duduk di lantai. Ada yang harus ia sampaikan pada sahabatnya itu. “Capek banget gue..” Cira menggulung rambut panjangnya. Wajahnya terlihat lelah. Tapi Cira nampak puas. Cira memang menyukai kegiatan traveling. Dan akhir – akhir ini, ia sedang senang naik gunung. Menurutnya, ia ketagih...

Catatan awal tahun 2015: Konsisten dalam ketidakkonsistenan

Sebut saja beberapa hal yang identik dengan perayaan pergantian tahun! Bakar jagung? Bakar ayam? Bakar kembang api? Bakar petasan? Panggung hiburan? Meniup terompet? Rasanya, saya kurang akrab dengan hal-hal itu. Sesekali saja boleh lah. Tapi rasanya saya lebih menggemari hening. Saya menghindari bising. Dan pergantian tahun kemarin malam, saya lewatkan dari dalam tempat suci bagi saya : kamar tidur. Ada tiga hal yang menemani saya : tracklist panjang yang menyenangkan, satu mug besar berisi capuccino, dan lamunan tentang apa saja. Salah satu yang menyenangkan dari momen pergantian baru buat saya adalah memiliki jurnal baru untuk kemudian dicorat-coret sepuasnya sepanjang tahun hingga tahun benar-benar habis. Di halaman awal jurnal, saya pasti menuliskan resolusi saya untuk tahun itu. Dan kebiasaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, telah bertahun-tahun juga saya menjadi orang yang cukup konsisten dalam ketidakkonsistenan. Setiap kali membuat resolusi, sebagian ...

The writing muse

muse (mju:z) v.  merenung. ~ing, n. renungan.  Sebelum ini saya tidak pernah terlalu tertarik dengan kata itu. Semua yang saya tahu tentang muse hanyalah nama sebuah band asal Inggris yang digawangi oleh Matthew Bellamy. Kemudian saya membaca cerpen dari penulis favorit saya dengan judul Muse. Cerpen ini bercerita tentang seorang penulis perempuan yang suaminya benci dijadikan muse . Dari situ saya mendapatkan makna baru dari kata muse , selain makna harfiahnya dan tentunya nama sebuah band. Saya pun penasaran, siapa atau apa sebenarnya muse itu? Apakah harus berwujud orang? Atau benda? Atau suasana? Mungkin aroma? Berselancar pada sedikit sekali artikel yang membahas muse , dan bertanya pada beberapa teman, saya mendapatkan pengertian baru. Bahwa muse ini tidak hanya berlaku bagi seorang penulis. Setiap pekerja kreatif, baik itu penulis, perancang busana, pelukis, hingga pencipta lagu memang mempunyai sumber inspirasi yang disebut muse . Saya pun menemukan perny...

Unrequited love - Bagian 2

“Kirana, gue balik duluan ya. Lo hati – hati. Tinggal lo sama Mbak Windy nih yang belum pulang. Perasaan gue gak enak.” Abby tersenyum iseng. “Sialan lo.” Aku melempar asal sebuah pulpen ke arah Abby. Hari ini pekerjaanku sangat padat. Aku melirik jam tanganku. Hampir jam 8 malam. Sebenarnya aku tinggal menunggu proses rendering selesai. Sambil menunggu, aku bermaksud untuk menyeduh cokelat di pantry. Tepat ketika aku berdiri, aku melihat Mbak Windy berjalan ke arahku. Ia terlihat ragu. “Belum pulang, Mbak?” Aku tersenyum. Mbak Windy membalas senyumku. Ia ternyata terus berjalan mendekati kubikelku. Ia lalu menarik sebuah kursi ke sebelahku dan duduk di atasnya. Mug berisi cokelat panas yang dibawa Mbak Windy, disodorkannya kepadaku. “Minum. Nanti masuk angin.” Ini apa? Sogokan sebelum ia memulai omelan kepadaku? “Eh, thanks, Mbak. Tumben..” Aku memaksakan sebuah cengiran. “Emh.. Ada perlu apa, Mbak?” Mbak Windy tidak pernah sekali pun bersikap manis kepadaku. Mengapa tib...